Laman

Mencari Jati Diri

Mencari Jati Diri
Hidup seperti labirin yang menagakar untuk sampai menuju puncak sebagai titik kekuasan Tuhan.

Kamis, 27 Mei 2010

Setan di Jalan-jalan

Setan di Jalan-jalan

Setan itu tidak bercerita padaku bagaimana ia membangkang pada perintah tuhan. Ia hanya masuk dalam pikiranku bersama bingkisan alam yang penuh dengan matematis dari otak kanan serta bias kenikmatan. Aku tak menyangka jika setan-setan sangat peduli dan mengakui keberadaanku, hingga mengharapkanku. Entah untuk tujuan apa, aku sendiri masih bingung, mungkin untuk menemaninya nanti di akherat, tetapi apakah aku juga tidak melestarikan eksistensinya dengan tindakan berdasarkan nafsuku? Apakah benar aku tidak punya nafsu sebagai manusia, hanya nafsu yang diciptakan oleh setan?. Aku cukup tahu kalau aku mengenalnya dalam rangkaian hujatan orang-orang yang beragama. Tapi biarlah mereka menganggapku termasuk golongan setan-setan. Toh mereka tak sampai menganggap diri sebagai malaikat atau para Nabi (mereka yakin tingkatan manusia biasa setara dengan manusia dan makhluk nyata lainnya). Pernah sekali aku berjalanan di depan gereja, para jemaat memalingkan muka. Di depan masjid pun demikian, mereka asyik melantunkan ayat-ayat Quran tanpa sadar keindahannya, selain tak tahu maknanya dan menganggapku kafir. Ah, cukup sedikit saja kuungkapkan.
Aku lantas mencari keberadaan setan. Apakah setan berdampingan dengan gerakan ketuhanan yang bertengger di hatiku, walau tidak dari juntrung yang sama? Apakah dengan aku mengenal Tuhan, aku akan tahu dan bisa jadi dekat dengan setan, atau sebaliknya? Lagi-lagi pertanyaan tersebut hanyalah ungkapan seronok dari kaum yang dianggap oleh kaum agamawan sebagai kaum sesat. Kebingunganku menjadi-jadi, di satu sisi aku ingin mengenal setan, tetapi aku dikenal oleh orang beragama sebagai setan. Di sisi lain aku ingin bertemu dengan Tuhan melalui tahap pencarian, bukan dilekatkan. Lantas bagaimana cara mereka mengenal Tuhan? Apakah cukup hanya menjalankan perintah dengan dasar kewajiban seorang hamba terhadap penciptanya? Aku berharap tidak ada perintah ataupun kewajiban yang mengikat hidupku, karena hal tersebut memaksaku untuk melakukan perbuatan, ternasuk dengan ibadah. Aku ingin ibadah yang kulaksanakan berdasarkan kemerdekaan seorang manusia sebagai penghuni surga, sebagai kebebasan yang bertajuk kepasrahan total karena kebutuhan akan Tuhan. Aku yakin kekuasaan Tuhan tidak akan berkurang dengan sedikit atau banyaknya orang yang menjalankan perintahnya, begitupun dengan jaring-jaring setan, tidak akan berhenti sampai akhir zaman.
Siapa yang lebih dahulu hadir: manusia ataukah setan (dalam cakupan individual)? Setiap orang lahir dalam keadaan fitrah, tidak ada sesuatupun yang melekat kecuali bekal dari alam rahim ibu, yaitu keyakinan adanya sang pencipta. Aku merasa seperti manusia perbatasan, antara yakin dan pertemuan. Setiap hari menyambut pagi dengan sembahyang untuk menunjukkan rasa butuh kepada tuhan, tetapi kabut tipis keyakinanku detik demi detik hilang bersama matahari yang makin tegak di atas kepala. Dari keyakinan yang tertanamkan, bergeser pada keraguan yang menghampiri, karena pertemuan tidak hanya dalam gerakan dan bacaan, tetapi perbuatan ikhlas sebagai seorang makhluk lemah di hadapan pemiliknya. Mungkin aku akan bertemu dengan Tuhan dari tanda-tanda kehadiran setan, yang membutuhkan manusia sebagai sahabatnya kelak. Aku juga harus meyakini adanya setan, tetapi tidak dalam bentuk pengabdian, akan tetapi sebagai kedudukan makhluk yang dibutuhkan. Lain halnya dengan Tuhan, aku harus meyakini dalam bentuk pengabdian karena suatu kebutuhan. Aku adalah kebutuhan dengan dua mata. Mata kanan aku selalu membutuhkan, mata kiri selalu dibutuhkan, menjadi makhluk yang tak pernah puas hingga ajal bersanding dengan jiwa.
Dua dasawarsa lebih, aku menemani waktu tanpa tahu hikmah kabut yang hilang saat matahari terbit kemudian muncul lagi esok harinya. Aku hanya berucap(mungkin kalangan orang religius mengatakan berdoa) tatkala matahari menyapa lewat celah-celah jendela, tak tahu kalau ucapanku adalah bagian dari nafas yang tersusun dari rangkaian proses rumit tak terperi. Walaupun banyak orang yang mengetahui prosesnya dengan penjalasan dan pemaparan ilmiah, tetapi pemahaman akan substansi pernafasan, yang bersumber dari keterkaitan antara yang fisik dan transenden, tak terjamah. Aku tidak mengarahkan bahwa, pernafasan adalah bukti kekuasaan Tuhan dalam tahapan kesetiaan, tetapi ada pemikiran mendalam yang seyogyanya berujung pada kesempurnaan, karena manusia tidaklah sempurna, pun dengan segala proses yang berkelindan di dirinya. Aku juga tidak sedang mencari-cari suatu kegundahan yang dapat melahirkan setan, yang nantinya dianggap bersatu denganku, bahkan bertentangan dengan Tuhan. Kuungkapkan sedikit saja tentang diri yang mencari Tuhan melalui jalan-jalan yang dipenuhi oleh setan-setan, aku harus menyelinap dan mengendap-endap agar dapat bertemu Tuhan tanpa menjadi setan.

Minggu, 23 Mei 2010

Dunia Tanpa Tumbuhan

Dunia Tanpa Tumbuhan

Hujan berlari dari ujung rambutku hingga ujung duniamu. Aku pernah mencintai gadis desa yang tak tahu definisi cinta, akupun sama, tak tahu apa pengertian cinta. Tapi dengan bangga dan lantang (sedikit lirih juga) kami mengungkapkan cinta, tidak dengan bunga atau perhiasan. Kucoba menambal kebodohanku akan cinta dengan menyayangi gadis itu seperti makhluk hidup lain. Kuberikan pohon kaktus sebagai bukti cinta. Bukan bermaksud mencari sensasi atau tak bersikap romantis, tapi cinta tak harus mengada-ada. Aku bukan tukang bunga atau juru masak yang sedia menghidangkan berbagai isi perut yang berakhir dengan sendawa.
Satu tahun berlalu, aku merasa bangga melihat kaktus pemberianku telah bercabang-cabang, seperti hubungan kami ada cabang sedih, cabang duka, cabang hampa, tapi belum sampai sayang. Kami anak yang baru mencium aroma bumi yang menyuguhkan perasaan. Kami melebur bersama lautan perasaan yang tak terbantahkan. Bagi kami, waktu adalah hal yang tercipta dari tubuh cinta, tak pernah ada yang tempat lain yang hadir. Semakin dalam gadis itu tenggelam dalam lautan asmara, semakin aku naik ke permukaan. Bukan aku tak menghargainya, aku hanya berusaha memberinya pengertian betapa berharganya udara. Semua karena waktu.
Ternyata waktu mengajarkan yang lain padaku. Ia memberi banyak kesempatan untuk mengolahnya. Aku mulai belajar berenang dan bermain-main saat ada hujan. Tapi gadisku tak tahu bagaimana ia berenang dan tak tahu saat hujan. Ia makin jauh meninggalkan udara yang makin kuharapkan. Bukan kami saling berjauhan, kami masih tetap bersama dalam ruang tak terjamah, penuh air dan udara tapi tak tahu cara merasakannya. Aku berusaha mencari dunia yang katanya indah dengan meretas jalan yang dipenuhi air dan udara.
Saat musim hujan tiba, kutemukan dunia melalui rambutku. Aku baru tahu dunianya telah hilang saat musim hujan yang lalu tanpa tumbuhan.

Sabtu, 22 Mei 2010

Aku Manusia Kesepian

Siapa Aku Ini?
Aku letakkan tiga kata yang mengisi halaman pertama dari jalan panjang tak berujung, jika selalu ada waktu untuk merenung, yang aku sendiri tak tahu apakah aku sedang berfilsafat atau aku tak kenal sama sekali filsafat.

Aku juga tidak sedang menanyakan keberadaanku (being) sebagai makhluk individu, sebagai ciptaan Tuhan yang Maha Esa, dan sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan dari orang lain dan dengan segala permasalahan yang ditimbulkan dalam perhelatannya.

Aku juga tidak sedang meragukan hakikat manusia yang memiliki keimanan tentang tujuan keberadaanku yang telah ditentukan di Lauh Mahfudz sebagai penghuni surga atau neraka.

Aku juga tidak sedang menunjukkan perenungan yang aku sendiri tak tahu bagaimana caranya menenggelamkan diri dalam suasana yang tak dapat kuraba dan kurasa.

Aku juga tidak sedang menunjukkan tentang bagaimana seseorang memikirkan tentang dirinya sendiri karena aku tak dapat berfikir secara logis dan mengakar sampai pada sumber yang menguatkan.

Aku juga tidak sedang membayangkan tentang kondisi seseorang yang luput dari pandangan banyak orang akan hal yang banyak orang tentu dapat merasakan dan mengalaminya sendiri, jika ada yang menggugahnya.

Aku juga tidak menganggap ketiadaan peran dan kontribusi orang tua yang sangat percaya dan menyayangiku sebagaimana orang tua-orang tua yang lain memberikan semua kemauan anaknya semampunya.

Aku juga tidak sedang mencurahkan isi hati yang gelisah karena keadaan yang tidak aku sukai, kedaan yang membuat tak nyaman, karena keadaan dapat diciptakan seiring pengendalian emosi dapat stabil.

Aku juga tidak sedang memberikan nasehat pada orang lain, karena aku bukan guru yang sering berceramah di depan kelas atau kyai di pesantren dan aku jauh dari bijaksana untuk melakukannya. Dan orang-orang juga mempunyai kemampuan yang sama jika menyadarinya, walaupun dalam tempat yang berbeda-beda.

Aku juga tidak sedang mempengaruhi orang agar memiliki pandangan yang mendalam tentang kehidupan, karena aku sendiri makhluk lemah yang hanya mempunyai nama yang melekat, dan tiap orang tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda.

Aku hanya menggelontarkan tanya yang banyak orang-orang tak berkenan melepaskannya dari belenggu ruang nyata.

Aku hanya mengulik kata yang mungkin dari diksi yang tak indah. Karena keindahan bukan dari susunan kata tersebut, akan tetapi seberapa dalam kita memaknai kata-kata tersebut.