Laman

Mencari Jati Diri

Mencari Jati Diri
Hidup seperti labirin yang menagakar untuk sampai menuju puncak sebagai titik kekuasan Tuhan.

Kamis, 15 Juli 2010

Orang Berseragam Lucu

Pada hari awal masuk sekolah, awal tahun pelajaran baru, aku di beri uang saku lima ribu rupiah. Untuk ongkos kendaraan pergi-pulang dari rumah ke sekolah tiga ribu rupiah dan sisanya untuk jajan. Adik saya pun di beri uang saku sama besarnya, lima ribu rupiah. Akan tetepi keseluruhannya untuk jajan, karena adik saya masih SMP, berangkat pakai sepeda. Dan sering juga dia mengeluh dengan rengekan yang menggelikan, “Bu, kok saya diberi ongkos cuma lima ribu. Teman-teman yang lain lebih dari lima ribu”. Jika ada uang dia langsung memberinya tanpa harus tahu untuk apa saja iang tersebut.
Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal dari sikap ibu saya tersebut. Aku merasa sikap ibu tidak adil. Untuk pembagian nominalnya sama, lima ribu rupiah, akan tetapi yang bisa aku manfaatkan untuk diri sendiri hanya dua ribu rupiah. Dengan alasan mengerti kondisi keluarga dan tampak penurut serta agar terlihat sebagai anak yang baik, aku menjadi tidak mempersoalkan hal itu. Aku mengikuti saja aturan main yang berlaku bagi ibuku, karena ayahku bertugas mencari kerja, tanpa ikut campur dalam masalah keuangan keluarga.
Keadilan merupakan bagian yang tak terelakkan dari kehidupan, dari lingkup terkecil hingga cakupan yang terbesar, dunia. Keadilan merupakan momok menyeramkan yang bersembunyi di balik baju kita sendiri, dan kita meraakan sendiri. Mungkin karena sangat akrab dan sangat familiar, hal itu seperti tak ada, hilang bersama kebiasaan dan kewajaran. Jika aku lanjutkan narasi di atas, tentu banyak ketidakadilan yang berkelindan di dalamnya, seiring bertambahnya usiaku sekarang. Karena bukan hanya urusan sekolah saja yang berhubungan dengan keuangan di dalamnya.
Begitu pula dengan kondisi negara tempat kita menghafal lagu kebangsaan dan menghafal isi sumpah pemuda, pada waktu sekolah, yaitu Indonesia. Banyak terjadi ketidak-adilan yang berkerumun layaknya orang-orang yang sedang menyaksikan pertandingan sepak bola, walaupun tim ssepak bola Indonesia tidak sehebat tim sepak bola negara-negara Eropa. Ketidak-adilan tersebut melewati tiap sudut ruangan, tiap aspek kehidupan. Dan hampir dalam setiap hal ada ketidak-adilan dengan cara yang berbeda tentunya. Tidak hanya berkaitan dengan aspek materi tetapi aspek-aspek lain juga.
Keadaan demikian bukanlah hal yang baru dikenal dan tentu disadari, jika perenungan dan pemikiran mendalam ikut serta. Ketidak-adilan seperti mengikuti tiap langkah manusia, (walaupun hanya manusia saja yang tahu akan keadilan dan ketidak-adilan),kapan pun dan di mana pun. Hal itu tentu bukanlah hukum alam atau hukum kausalitas yang tidak dapat dirubah. Hal itu merupakan gejala sosial yang menyangkut pelbagai kegiatan sosial, yang tercipta karena adanya ketidak-sesuaian pandangan atau mungkin pandangan yang sengaja disimpangkan.
Bagi seseorang yang peduli dengan keberadaan manusia yang lain, humanisme yang masih terjaga, hal tersebut akan sangat menyakitkan. Tidak hanya sakit karena melihat orang lain sakit. Tapi juga sakit mana kala seseorang diperlakukan tidak sesuai dengan apa yang telah diusahakan, sebagai makhluk yang sama. Ini bukanlah pikiran sosialis, yang diasosiasikan berhaluan kiri, akan tetapi ini adalah barisan kata yang ingin kujadikan sebagai pedang untuk memotong batang-batang ketidak-adilan, orang-orang yang berkuasa dan mereka bertindak tidak adil.
Kemudian, diam kita terhadap banyaknya ketidak-adilan-tidak usah saya paparkan satu per satunya-merupakan bentuk masif seseorang, yang mungkin mewakilkan sebagian masyarakat, yang dapat berakibat makin hilangnya kata “ketidakadilan” karena dianggap semuanya sudah berjalan secara adil. Sehingga akan mengakar dan bahkan bisa jadi pohon itu sendiri yang kemudian akan melakukan regenerasi dengan bentuk dan model yang lebih kuat.
Jika kita menunggu waktu, lantas sampai kapan? Apakah dengan sabar atau pasrah? Atau menunggu datangnya pembela keadilan yang keluar dari layar-layar kaca dengan seragam lucu dan senjata yang bisa di ubah-ubah secara otomatis, hingga bisa merubah saluran layar kaca tersebut hingga pembela keadilan itu tidak ada?
Aku tidak mengulas tentang ketidak-adilan itu seperti apa ataupun memberi wacana tentang keadilan. Aku sendiri tidak tahu makna dan hakikat “adil”, apalagi setelah mendapat tambahan kata “tidak”, serta imbuhan ke-an yang berarti adalah proses. Jadi banyak hal yang berkaitan dengannya, mungkin juga ada kaitannya dengan masa kecilku saat masih sekolah dengan uang saku lima ribu rupiah.

Tak Kenal

Tak ada judul yang sesuai untuk drama hidupku ini, atau mungkin aku tak mampu merangkai kata penuh imajinasi untuk memusatkan perhatian pada kehidupan yang aku jalani.
Tak ada awalan yang bagus untuk menggoreskan tinta pada lembaran kertas permainan sandiwara yang berjalan bersama nafas dari rongga dada ini, atau mungkin aku tak mampu mengungkapkan perasaan sesuai dengan perasaan orang lain.
tak ada istilah yang bisa kuingat untuk melengkapi barisan kata-kata gersang dari tubuhku, atau aku memang tak tahu bagaimana istilah tersebut dapat sampai pada ingatanku kemudian kutuangkan dalam secangkir pengalaman.
Tak ada inspirasi yang terlintas untuk menggagas ide dalam pikiran yang sejak dulu kurawat, atau mungkin aku tak punya pikiran dan tak punya kepekaan perasaan untuk dapat menggelontarkan sejumput pencerahan dalam diri.
Tak ada waktu yang tepat untuk mengukir perjalanan jari-jari ini pada tombol-tombol komputer yang menggugah keinginanku, atau mungkin aku tak mampu mengolah bahan yang tersimpan menjadi makanan untuk jiwa ini.
Tak ada pandangan yang menarik dalam tiap langkah anganku, atau aku memang tak tahu bagaimana mengerti tentang sebuah arti kenyamanan dan keindahan yang memenuhi alam semesta bersama kehangatan senyumnya.
Tak ada rayuan yang menggoda tubuh ini untuk tetap semangat meretas belantara asing jiwaku, atau mungkin aku tak tahu bagaimana ejawantah dari rayuan yang tiap waktu aku dapati di antara semak-semak kering yang kujadikan api unggun. Tak ada tindakan baik untuk beberapa waktu yang cukup menguras keringat, atau mungkin aku tak tahu arti kebaikan yang bisa kutemui di sepanjang jalan dan bahkan di antara kejahatan yang sangat akrab denganku.
Tak ada kesempatan yang berguna pada pengalamanku, atau mungkin aku tak tahu bagaimana cara memperoleh pengalaman yang banyak orang menantikan manfaatnya untuk kebaikan antar sesama.
Tak ada cinta yang suci untuk proses pendewasaan diri, atau mungkin aku tak mengenal apa makna cinta yang banyak orang mengagungkannya dengan pengorbannan yang dianggap sesuai dengan hakikat cinta.
Tak lukisan yang indah untuk paparan perasaan ini, atau mungkin aku tak bisa merasakan bagaimana orang-orang dapat memperoleh kebahagiaan dan kesedihan untuk mewarnai hidup yang berliku.
Tak ada sentuhan yang lembut untuk urat-urat ini, atau mungkin aku tak pernah belajar tetang fungsi indera yang oleh sebagian orang dijadikan penilaian tentang jati diri untuk memuaskan ego manusiawinya.

Tak ada yang tepat untuk semuanya, atau mungkin hamburan kata-kata ini tak mengenalku.

Cinta dan Persahabatan

Cinta dan persahabatan adalah dua saudara dari tempat yang berbeda. Cinta merupakan anugerah tuhan yang istimewa, karena cinta tidak dapat didefinisikan maknanya, bukan berarti tak bermakna, akan tetapi keterbatasanku untuk memaknainya.
Aku menganggap cinta adalah seorang anak perasaan yang berguru pada hati kemudian melanjutkan pengembaraan menuju belantara yang penuh dengan nafsu. Jadi bagaimana pun kuatnya perasaan itu, tak mampu menguasai cinta, yang ada hanya harapan dan angan-angan. Dan selanjutnya akan menghasilkan masalah berupa kandasnya harapan dan pupusnya angan-angan, karena perasaan tak tahu nasib dan siapa itu cinta, dilepas begitu saja. Akibatnya cinta akan menjadi biang emosi atau berujung dengan kekecewaan.
Kemudian hati sebagai pemandu dan pembimbing akan dapat mengetahui potensi atau kemampuan dari cinta, sehingga cinta akan mengikuti arahan atau petunjuk hati yang berlandaskan kebenaran. Tak ada suatu kegagalan dari hati untuk menyampaikan pelajaran kepada cinta akan kebenaran-kebenaran, kecuali jika cinta memilih jalan hidupnya sendiri, jalan yang tak mengikuti aturan gurunya. Dan cinta akan mengamalkan ilmu yang diterimanya.
Setelah sampai di belantara nafsu, kemandirian cinta akan diuji, apakah dia dengan pelajaran yang diperolehnya akan tetap berpegang teguh, atau nafsu akan menjadi pengalaman yang dapat menghasilkan pelajaran. Akan tetapi nafsu bukanlah ujung pengembaraan dari cinta, karena cinta adalah makhluk bebas yang tak berakhir, dan bukan pula cinta itu abadi, karena ada waktu saat cinta mengalami kelelahan pengembaraan.
Sedangkan persahabatan adalah perjalanan pulang cinta kembali pada orang tuanya. Sehingga tak ada persahabatan yang tanpa cinta, cinta yang telah berguru kepada hati. Dan pada saatnya persahabatan akan memahami jejak-jejak cinta, karena cinta merupakan bagian persahabatan.
Mungkin ada yang berspekulasi kalau cinta itu sudah pasti persahabatan, akan tetapi persahabatan belum tentu cinta. Berarti pandangan itu masih menganggap kalau persahabatan sama dengan pertemanan.

Selanjutnya ………..

Dan orang-orang bijak akan tepat menempatkan sesuatu.

Laut Kecil Sebelum Mandi

Seperti hari-hari sebelumnya, aku terdiam di hadapan lautan kecil menunggu saatnya mengencangkan ikat pinggang dan menghitung kancing baju. Aku tampak seperti manusia tolol (kalau tidak lebih buruk dari kerbau), hanya memandangi lautan yang berbagi air dengan perutku. Aku tidak ingin tenggelam, aku hanya menenggelamkan waktu yang selalu saja berkejaran dengan keringat di kulitku, gumamku suatu hari setelah jalan-jalan di perkampungan kumuh. Aku tidak mungkin melihat bayangan anak-anak kelaparan, lansia menunggu ajal dengan sia-sia, para pemuda hanya bolak-balik di depan halaman tetangga. Laut kecilku mengantarkan hidangan remang ditepi-tepi bibirku (aku tak tahu siapa yang menyuruhnya).
Laut kecil itu kali ini agak enggan bersamaku: menemaniku sebelum kerja, sekolah, ibadah, juga tanpa arah. Ia mulai berpihak pada pengalamanku saat di perkampungan kumuh itu. Tapi ia kadang mengeluh dan mengadu kepadaku tentang kesempitan hidup yang dialami teman barunya. Nanti laut juga akan mengeluhkan bagaimana penderitaan rakyat kecil di bawah telapak “keindahan”, keindahan yang dijanjikan kota-kota dengan menggusur para pedagang kecil, karena ia tak bisa membawa aspirasi mereka ke wakil rakyat yang masih mengenggap dirinya sebagai penguasa rakyat. Apalagi sekarang laut kecilku sudah punya banyak teman (walaupun masih sebatas bias-bias politik yang tak pernah dipelajarinya dari jurursan ilmu politik atau ilmu hokum, tapi dari kesetiaannya menemaniku duduk sambil merokok).
Aku ingin ia kembali ke menjadi laut kecilku yang tak tahu apa-apa agar tak kecewa dengan pengetahuaanya (ia tak berkuasa untuk mengajarkan pengetahuannya). Aku ingin kau kembali membawa kesegaran yang kutitipkan pada malam, saat anak-anak jalanan meringkuk di kolong jembatan dan trotoar-trotoar. Tapi kubiarkan keinginanku hilang saat kau bersama mereka tidak dalam mimpi.

Minggu, 11 Juli 2010

Karya Sastra, UFO yang Bingung Mendarat

Saat UFO mendarat di bumi Indonesia, maka akan timbul kebingungan dalam dirinya, di Indonesia bagian manakah UFO itu akan menjejakkan kakinya. Begitu juga dengan karya sastra di Indonesia, khususnya genre prosa. UFO tersebut ingin menguasai Indonesia, tapi terlebih dahulu harus menguasai keberagaman dan variasi kebudayaan yang ada. Saat kebudayaan urban mendominasi ranah karya sastra, dianggap kebudayaan yang universal, posisi warna lokal atau local coleur seperti sebuah bayang-bayang, sesuatu yang tampak setelah adanya benda dan perantara. Kebersatuan atau kebhineka-tunggal-ikaan menjadi pelindung bagi kebudayaan urban agar kukuh kedudukannya, bukan dalam pengertian kebudayaan urban adalah penjajah, akan tetapi sebuah dinamika dalam karya sastra.
Kebudayaan urban yang dibawa oleh Post-Modernisme membawa implikasi pada bergesernya nilai tradisional yang bertempat di tiap daerah. Kebudayaan nasional, dalam artian kebudayaan yang berpedoman pada Bhineka Tunggal Ika, kemudian menjadi garda depan, yang ditandai oleh kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan, menyangkut cara pandang dan pola pikir. Sehingga apa-apa yang menjadi dasar pemikiran mayoritas berhaluan ke Barat, sebagai pusat atau kiblat kemajuan. Apalagi karya sastra, di satu sisi hakikatnya adalah bahasa dan di sisi lain adalah media sebagai pengantar kebudayaan. Melihat fenomena tersebut, Ajip Rosidi menghimbau untuk banyak membaca karya sastra pengarang pribumi, tentu saja dia sendiri berusaha, agar masyarakat sastra agar berpijak pada bumi sendiri dengan mengapungkan kultur lokal ke permukaan.
Tidak dapat dipungkiri jika dalam karya sastra modern yang mengangkat budaya urban, tidak menampilkan kultur lokal. Setiap pengarang atau sastrawan adalah manusia yang menjadi makhluk universal secara ideologi, tetapi dia juga bukan makhluk yang lahir dari kekosongan, artinya dari keadaan masyarakat dan berbagai pandangannya, sehingga pengaruh lingkungan, lingkungan tempatnya diberikan pembelajaran hidup pertama kali, akan membuatnya menguak memori lama dalam rangka bernostalgia. Untuk sesaat, karya sastra yang berpandangan universal bersama kompleksitas permasalahannya akan kabur, berganti dengan wilayah yang lebih sempit, terlepas dari adanya kemungkinan permasalahan yang sama.
Warna lokal tidak hanya berkaitan struktur sintaksis atau unsur intrinsik saja, seperti setting, nama daerah, bahasa, tetapi juga berkaitan dengan pandangan dan kejala social yang menjadi budaya dalam masyarakat tertentu. Sebgai contoh cerpen-cerpen Danarto yang terasa warna lokalnya tidak hanya pada penggunaan bahasa Jawa, tetapi juga pandangan orang Jawa yang akrab dengan mistis. Kemudian cerita Si Dul anak Sekolahan (Aman Datuk Majoindo), yang mengetengahkan kebudayaan Betawi. Upacara (Korrie Layun Rampan), Kemarau (A.A Navis) dan yang lainnya. Kemdian yang tampak baru yaitu dengan menampilkan kultur lokal dengan latar belakang kehidupan pesantren adalah K.H A Mutofa Bisri (Gus Mus) dalam kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi.
Pada zaman angkatan 45, mulai tampak ada perubahan pandangan dalam karya-karya sastra, dipengaruhi oleh semangat kemerdekaan. Sehingga warna lokal pada saat itu merupakan bagian yang terasingkan, bagian yang independent dan dianggap tidak menyentuh aspek social dalam hubungannya dengan nasionalisme. Kemudian makin diperkuat dengan pengaruh Komunis yang berkembang pada angkatan 50 an. Makin usia karya sastra bertambah, dengan jumlah pengarang yang makin meningkat pula, warna lokal atau kultur lokal dianggap seakan parasit dari multikultural dan heterogenitas yang membutuhkan penyatuan.
Hakikat multikultural dalam dinamika karya sastra adalah karya-karya yang bermanfaat bagi semua golongan, tanpa membedakan regionalitas atau lokalitas tertentu. Sehingga keberadaan cerpen-cerpen atau karya sastra lain yang tebar pesona dengan permasalahan atau bahasa yang tidak diketahui maknanya secara harfiah, karena perbedaan bahasa atau tradisi, kurang bermanfaat bagi masyarakat berskala nasional. A. S Laksana dan Agus Noor tidak ingin dicap sebagai orang yang berkontemplasi hanya di kandangnya sendiri dengan cerpen-cerpen urban, misalnya. Pun Wa Ode Wulan Ratna, dia juga termasuk kaum urban yang mengikuti dinamisasi dalam sastra, walaupun cerpennya mengevokasi bahasa arkais.
Akan tetapi para sastrawan bukanlah kemajuan itu sendiri, yang selalu menghadap ke depan tanpa menoleh atau berbalik ke belakang. Ada kalanya kultur lokal tampil dengan alasan dan tujuan yang bukan merupakan garda depan, tetapi sebatas pemaparan. Dalam hal ini sastrawan bertindak sebagai wisatawan, yang memaparkan keadaan social tertentu dalam suatu daerah, tanpa harus bertanggung jawab atas keadaan tersebut. Misalnya menceritakan kehidupan agraris untuk memprotes industrialisme. Atau seperti yang telah disebutkan di atas, dalam rangka nostalgia.
Dalam perkembangan karya sastra sekarang ini, keberagaman yang menyangkut perbedaan, menjadi tampak indah dalam konstelsi kesusastraan Indonesia, bukan persamaannya itu sendiri. Akan tetapi persamaan juga bukan hal yang membosankan. Jika kita melihat ke depan maka dinamisasi sastra akan tetap terjaga, sebagai bagian kebudayaan bangsa, bukan daerah. Jika melihat ke belakang, kekhawatiran akan adanya stagnasi dalam sastra terjadi. Mungkin begitulah UFO bekerja, ada kalanya ingin cepat tinggal di Indonesia, tapi juga bingung harus menginjak tanah yang mana dulu.


***

Kamis, 27 Mei 2010

Setan di Jalan-jalan

Setan di Jalan-jalan

Setan itu tidak bercerita padaku bagaimana ia membangkang pada perintah tuhan. Ia hanya masuk dalam pikiranku bersama bingkisan alam yang penuh dengan matematis dari otak kanan serta bias kenikmatan. Aku tak menyangka jika setan-setan sangat peduli dan mengakui keberadaanku, hingga mengharapkanku. Entah untuk tujuan apa, aku sendiri masih bingung, mungkin untuk menemaninya nanti di akherat, tetapi apakah aku juga tidak melestarikan eksistensinya dengan tindakan berdasarkan nafsuku? Apakah benar aku tidak punya nafsu sebagai manusia, hanya nafsu yang diciptakan oleh setan?. Aku cukup tahu kalau aku mengenalnya dalam rangkaian hujatan orang-orang yang beragama. Tapi biarlah mereka menganggapku termasuk golongan setan-setan. Toh mereka tak sampai menganggap diri sebagai malaikat atau para Nabi (mereka yakin tingkatan manusia biasa setara dengan manusia dan makhluk nyata lainnya). Pernah sekali aku berjalanan di depan gereja, para jemaat memalingkan muka. Di depan masjid pun demikian, mereka asyik melantunkan ayat-ayat Quran tanpa sadar keindahannya, selain tak tahu maknanya dan menganggapku kafir. Ah, cukup sedikit saja kuungkapkan.
Aku lantas mencari keberadaan setan. Apakah setan berdampingan dengan gerakan ketuhanan yang bertengger di hatiku, walau tidak dari juntrung yang sama? Apakah dengan aku mengenal Tuhan, aku akan tahu dan bisa jadi dekat dengan setan, atau sebaliknya? Lagi-lagi pertanyaan tersebut hanyalah ungkapan seronok dari kaum yang dianggap oleh kaum agamawan sebagai kaum sesat. Kebingunganku menjadi-jadi, di satu sisi aku ingin mengenal setan, tetapi aku dikenal oleh orang beragama sebagai setan. Di sisi lain aku ingin bertemu dengan Tuhan melalui tahap pencarian, bukan dilekatkan. Lantas bagaimana cara mereka mengenal Tuhan? Apakah cukup hanya menjalankan perintah dengan dasar kewajiban seorang hamba terhadap penciptanya? Aku berharap tidak ada perintah ataupun kewajiban yang mengikat hidupku, karena hal tersebut memaksaku untuk melakukan perbuatan, ternasuk dengan ibadah. Aku ingin ibadah yang kulaksanakan berdasarkan kemerdekaan seorang manusia sebagai penghuni surga, sebagai kebebasan yang bertajuk kepasrahan total karena kebutuhan akan Tuhan. Aku yakin kekuasaan Tuhan tidak akan berkurang dengan sedikit atau banyaknya orang yang menjalankan perintahnya, begitupun dengan jaring-jaring setan, tidak akan berhenti sampai akhir zaman.
Siapa yang lebih dahulu hadir: manusia ataukah setan (dalam cakupan individual)? Setiap orang lahir dalam keadaan fitrah, tidak ada sesuatupun yang melekat kecuali bekal dari alam rahim ibu, yaitu keyakinan adanya sang pencipta. Aku merasa seperti manusia perbatasan, antara yakin dan pertemuan. Setiap hari menyambut pagi dengan sembahyang untuk menunjukkan rasa butuh kepada tuhan, tetapi kabut tipis keyakinanku detik demi detik hilang bersama matahari yang makin tegak di atas kepala. Dari keyakinan yang tertanamkan, bergeser pada keraguan yang menghampiri, karena pertemuan tidak hanya dalam gerakan dan bacaan, tetapi perbuatan ikhlas sebagai seorang makhluk lemah di hadapan pemiliknya. Mungkin aku akan bertemu dengan Tuhan dari tanda-tanda kehadiran setan, yang membutuhkan manusia sebagai sahabatnya kelak. Aku juga harus meyakini adanya setan, tetapi tidak dalam bentuk pengabdian, akan tetapi sebagai kedudukan makhluk yang dibutuhkan. Lain halnya dengan Tuhan, aku harus meyakini dalam bentuk pengabdian karena suatu kebutuhan. Aku adalah kebutuhan dengan dua mata. Mata kanan aku selalu membutuhkan, mata kiri selalu dibutuhkan, menjadi makhluk yang tak pernah puas hingga ajal bersanding dengan jiwa.
Dua dasawarsa lebih, aku menemani waktu tanpa tahu hikmah kabut yang hilang saat matahari terbit kemudian muncul lagi esok harinya. Aku hanya berucap(mungkin kalangan orang religius mengatakan berdoa) tatkala matahari menyapa lewat celah-celah jendela, tak tahu kalau ucapanku adalah bagian dari nafas yang tersusun dari rangkaian proses rumit tak terperi. Walaupun banyak orang yang mengetahui prosesnya dengan penjalasan dan pemaparan ilmiah, tetapi pemahaman akan substansi pernafasan, yang bersumber dari keterkaitan antara yang fisik dan transenden, tak terjamah. Aku tidak mengarahkan bahwa, pernafasan adalah bukti kekuasaan Tuhan dalam tahapan kesetiaan, tetapi ada pemikiran mendalam yang seyogyanya berujung pada kesempurnaan, karena manusia tidaklah sempurna, pun dengan segala proses yang berkelindan di dirinya. Aku juga tidak sedang mencari-cari suatu kegundahan yang dapat melahirkan setan, yang nantinya dianggap bersatu denganku, bahkan bertentangan dengan Tuhan. Kuungkapkan sedikit saja tentang diri yang mencari Tuhan melalui jalan-jalan yang dipenuhi oleh setan-setan, aku harus menyelinap dan mengendap-endap agar dapat bertemu Tuhan tanpa menjadi setan.

Minggu, 23 Mei 2010

Dunia Tanpa Tumbuhan

Dunia Tanpa Tumbuhan

Hujan berlari dari ujung rambutku hingga ujung duniamu. Aku pernah mencintai gadis desa yang tak tahu definisi cinta, akupun sama, tak tahu apa pengertian cinta. Tapi dengan bangga dan lantang (sedikit lirih juga) kami mengungkapkan cinta, tidak dengan bunga atau perhiasan. Kucoba menambal kebodohanku akan cinta dengan menyayangi gadis itu seperti makhluk hidup lain. Kuberikan pohon kaktus sebagai bukti cinta. Bukan bermaksud mencari sensasi atau tak bersikap romantis, tapi cinta tak harus mengada-ada. Aku bukan tukang bunga atau juru masak yang sedia menghidangkan berbagai isi perut yang berakhir dengan sendawa.
Satu tahun berlalu, aku merasa bangga melihat kaktus pemberianku telah bercabang-cabang, seperti hubungan kami ada cabang sedih, cabang duka, cabang hampa, tapi belum sampai sayang. Kami anak yang baru mencium aroma bumi yang menyuguhkan perasaan. Kami melebur bersama lautan perasaan yang tak terbantahkan. Bagi kami, waktu adalah hal yang tercipta dari tubuh cinta, tak pernah ada yang tempat lain yang hadir. Semakin dalam gadis itu tenggelam dalam lautan asmara, semakin aku naik ke permukaan. Bukan aku tak menghargainya, aku hanya berusaha memberinya pengertian betapa berharganya udara. Semua karena waktu.
Ternyata waktu mengajarkan yang lain padaku. Ia memberi banyak kesempatan untuk mengolahnya. Aku mulai belajar berenang dan bermain-main saat ada hujan. Tapi gadisku tak tahu bagaimana ia berenang dan tak tahu saat hujan. Ia makin jauh meninggalkan udara yang makin kuharapkan. Bukan kami saling berjauhan, kami masih tetap bersama dalam ruang tak terjamah, penuh air dan udara tapi tak tahu cara merasakannya. Aku berusaha mencari dunia yang katanya indah dengan meretas jalan yang dipenuhi air dan udara.
Saat musim hujan tiba, kutemukan dunia melalui rambutku. Aku baru tahu dunianya telah hilang saat musim hujan yang lalu tanpa tumbuhan.

Sabtu, 22 Mei 2010

Aku Manusia Kesepian

Siapa Aku Ini?
Aku letakkan tiga kata yang mengisi halaman pertama dari jalan panjang tak berujung, jika selalu ada waktu untuk merenung, yang aku sendiri tak tahu apakah aku sedang berfilsafat atau aku tak kenal sama sekali filsafat.

Aku juga tidak sedang menanyakan keberadaanku (being) sebagai makhluk individu, sebagai ciptaan Tuhan yang Maha Esa, dan sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan dari orang lain dan dengan segala permasalahan yang ditimbulkan dalam perhelatannya.

Aku juga tidak sedang meragukan hakikat manusia yang memiliki keimanan tentang tujuan keberadaanku yang telah ditentukan di Lauh Mahfudz sebagai penghuni surga atau neraka.

Aku juga tidak sedang menunjukkan perenungan yang aku sendiri tak tahu bagaimana caranya menenggelamkan diri dalam suasana yang tak dapat kuraba dan kurasa.

Aku juga tidak sedang menunjukkan tentang bagaimana seseorang memikirkan tentang dirinya sendiri karena aku tak dapat berfikir secara logis dan mengakar sampai pada sumber yang menguatkan.

Aku juga tidak sedang membayangkan tentang kondisi seseorang yang luput dari pandangan banyak orang akan hal yang banyak orang tentu dapat merasakan dan mengalaminya sendiri, jika ada yang menggugahnya.

Aku juga tidak menganggap ketiadaan peran dan kontribusi orang tua yang sangat percaya dan menyayangiku sebagaimana orang tua-orang tua yang lain memberikan semua kemauan anaknya semampunya.

Aku juga tidak sedang mencurahkan isi hati yang gelisah karena keadaan yang tidak aku sukai, kedaan yang membuat tak nyaman, karena keadaan dapat diciptakan seiring pengendalian emosi dapat stabil.

Aku juga tidak sedang memberikan nasehat pada orang lain, karena aku bukan guru yang sering berceramah di depan kelas atau kyai di pesantren dan aku jauh dari bijaksana untuk melakukannya. Dan orang-orang juga mempunyai kemampuan yang sama jika menyadarinya, walaupun dalam tempat yang berbeda-beda.

Aku juga tidak sedang mempengaruhi orang agar memiliki pandangan yang mendalam tentang kehidupan, karena aku sendiri makhluk lemah yang hanya mempunyai nama yang melekat, dan tiap orang tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda.

Aku hanya menggelontarkan tanya yang banyak orang-orang tak berkenan melepaskannya dari belenggu ruang nyata.

Aku hanya mengulik kata yang mungkin dari diksi yang tak indah. Karena keindahan bukan dari susunan kata tersebut, akan tetapi seberapa dalam kita memaknai kata-kata tersebut.