Laman

Mencari Jati Diri

Mencari Jati Diri
Hidup seperti labirin yang menagakar untuk sampai menuju puncak sebagai titik kekuasan Tuhan.

Sabtu, 22 Mei 2010

Aku Manusia Kesepian

Siapa Aku Ini?
Aku letakkan tiga kata yang mengisi halaman pertama dari jalan panjang tak berujung, jika selalu ada waktu untuk merenung, yang aku sendiri tak tahu apakah aku sedang berfilsafat atau aku tak kenal sama sekali filsafat.

Aku juga tidak sedang menanyakan keberadaanku (being) sebagai makhluk individu, sebagai ciptaan Tuhan yang Maha Esa, dan sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan dari orang lain dan dengan segala permasalahan yang ditimbulkan dalam perhelatannya.

Aku juga tidak sedang meragukan hakikat manusia yang memiliki keimanan tentang tujuan keberadaanku yang telah ditentukan di Lauh Mahfudz sebagai penghuni surga atau neraka.

Aku juga tidak sedang menunjukkan perenungan yang aku sendiri tak tahu bagaimana caranya menenggelamkan diri dalam suasana yang tak dapat kuraba dan kurasa.

Aku juga tidak sedang menunjukkan tentang bagaimana seseorang memikirkan tentang dirinya sendiri karena aku tak dapat berfikir secara logis dan mengakar sampai pada sumber yang menguatkan.

Aku juga tidak sedang membayangkan tentang kondisi seseorang yang luput dari pandangan banyak orang akan hal yang banyak orang tentu dapat merasakan dan mengalaminya sendiri, jika ada yang menggugahnya.

Aku juga tidak menganggap ketiadaan peran dan kontribusi orang tua yang sangat percaya dan menyayangiku sebagaimana orang tua-orang tua yang lain memberikan semua kemauan anaknya semampunya.

Aku juga tidak sedang mencurahkan isi hati yang gelisah karena keadaan yang tidak aku sukai, kedaan yang membuat tak nyaman, karena keadaan dapat diciptakan seiring pengendalian emosi dapat stabil.

Aku juga tidak sedang memberikan nasehat pada orang lain, karena aku bukan guru yang sering berceramah di depan kelas atau kyai di pesantren dan aku jauh dari bijaksana untuk melakukannya. Dan orang-orang juga mempunyai kemampuan yang sama jika menyadarinya, walaupun dalam tempat yang berbeda-beda.

Aku juga tidak sedang mempengaruhi orang agar memiliki pandangan yang mendalam tentang kehidupan, karena aku sendiri makhluk lemah yang hanya mempunyai nama yang melekat, dan tiap orang tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda.

Aku hanya menggelontarkan tanya yang banyak orang-orang tak berkenan melepaskannya dari belenggu ruang nyata.

Aku hanya mengulik kata yang mungkin dari diksi yang tak indah. Karena keindahan bukan dari susunan kata tersebut, akan tetapi seberapa dalam kita memaknai kata-kata tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar