Dunia Tanpa Tumbuhan
Hujan berlari dari ujung rambutku hingga ujung duniamu. Aku pernah mencintai gadis desa yang tak tahu definisi cinta, akupun sama, tak tahu apa pengertian cinta. Tapi dengan bangga dan lantang (sedikit lirih juga) kami mengungkapkan cinta, tidak dengan bunga atau perhiasan. Kucoba menambal kebodohanku akan cinta dengan menyayangi gadis itu seperti makhluk hidup lain. Kuberikan pohon kaktus sebagai bukti cinta. Bukan bermaksud mencari sensasi atau tak bersikap romantis, tapi cinta tak harus mengada-ada. Aku bukan tukang bunga atau juru masak yang sedia menghidangkan berbagai isi perut yang berakhir dengan sendawa.
Satu tahun berlalu, aku merasa bangga melihat kaktus pemberianku telah bercabang-cabang, seperti hubungan kami ada cabang sedih, cabang duka, cabang hampa, tapi belum sampai sayang. Kami anak yang baru mencium aroma bumi yang menyuguhkan perasaan. Kami melebur bersama lautan perasaan yang tak terbantahkan. Bagi kami, waktu adalah hal yang tercipta dari tubuh cinta, tak pernah ada yang tempat lain yang hadir. Semakin dalam gadis itu tenggelam dalam lautan asmara, semakin aku naik ke permukaan. Bukan aku tak menghargainya, aku hanya berusaha memberinya pengertian betapa berharganya udara. Semua karena waktu.
Ternyata waktu mengajarkan yang lain padaku. Ia memberi banyak kesempatan untuk mengolahnya. Aku mulai belajar berenang dan bermain-main saat ada hujan. Tapi gadisku tak tahu bagaimana ia berenang dan tak tahu saat hujan. Ia makin jauh meninggalkan udara yang makin kuharapkan. Bukan kami saling berjauhan, kami masih tetap bersama dalam ruang tak terjamah, penuh air dan udara tapi tak tahu cara merasakannya. Aku berusaha mencari dunia yang katanya indah dengan meretas jalan yang dipenuhi air dan udara.
Saat musim hujan tiba, kutemukan dunia melalui rambutku. Aku baru tahu dunianya telah hilang saat musim hujan yang lalu tanpa tumbuhan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar