Pada hari awal masuk sekolah, awal tahun pelajaran baru, aku di beri uang saku lima ribu rupiah. Untuk ongkos kendaraan pergi-pulang dari rumah ke sekolah tiga ribu rupiah dan sisanya untuk jajan. Adik saya pun di beri uang saku sama besarnya, lima ribu rupiah. Akan tetepi keseluruhannya untuk jajan, karena adik saya masih SMP, berangkat pakai sepeda. Dan sering juga dia mengeluh dengan rengekan yang menggelikan, “Bu, kok saya diberi ongkos cuma lima ribu. Teman-teman yang lain lebih dari lima ribu”. Jika ada uang dia langsung memberinya tanpa harus tahu untuk apa saja iang tersebut.
Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal dari sikap ibu saya tersebut. Aku merasa sikap ibu tidak adil. Untuk pembagian nominalnya sama, lima ribu rupiah, akan tetapi yang bisa aku manfaatkan untuk diri sendiri hanya dua ribu rupiah. Dengan alasan mengerti kondisi keluarga dan tampak penurut serta agar terlihat sebagai anak yang baik, aku menjadi tidak mempersoalkan hal itu. Aku mengikuti saja aturan main yang berlaku bagi ibuku, karena ayahku bertugas mencari kerja, tanpa ikut campur dalam masalah keuangan keluarga.
Keadilan merupakan bagian yang tak terelakkan dari kehidupan, dari lingkup terkecil hingga cakupan yang terbesar, dunia. Keadilan merupakan momok menyeramkan yang bersembunyi di balik baju kita sendiri, dan kita meraakan sendiri. Mungkin karena sangat akrab dan sangat familiar, hal itu seperti tak ada, hilang bersama kebiasaan dan kewajaran. Jika aku lanjutkan narasi di atas, tentu banyak ketidakadilan yang berkelindan di dalamnya, seiring bertambahnya usiaku sekarang. Karena bukan hanya urusan sekolah saja yang berhubungan dengan keuangan di dalamnya.
Begitu pula dengan kondisi negara tempat kita menghafal lagu kebangsaan dan menghafal isi sumpah pemuda, pada waktu sekolah, yaitu Indonesia. Banyak terjadi ketidak-adilan yang berkerumun layaknya orang-orang yang sedang menyaksikan pertandingan sepak bola, walaupun tim ssepak bola Indonesia tidak sehebat tim sepak bola negara-negara Eropa. Ketidak-adilan tersebut melewati tiap sudut ruangan, tiap aspek kehidupan. Dan hampir dalam setiap hal ada ketidak-adilan dengan cara yang berbeda tentunya. Tidak hanya berkaitan dengan aspek materi tetapi aspek-aspek lain juga.
Keadaan demikian bukanlah hal yang baru dikenal dan tentu disadari, jika perenungan dan pemikiran mendalam ikut serta. Ketidak-adilan seperti mengikuti tiap langkah manusia, (walaupun hanya manusia saja yang tahu akan keadilan dan ketidak-adilan),kapan pun dan di mana pun. Hal itu tentu bukanlah hukum alam atau hukum kausalitas yang tidak dapat dirubah. Hal itu merupakan gejala sosial yang menyangkut pelbagai kegiatan sosial, yang tercipta karena adanya ketidak-sesuaian pandangan atau mungkin pandangan yang sengaja disimpangkan.
Bagi seseorang yang peduli dengan keberadaan manusia yang lain, humanisme yang masih terjaga, hal tersebut akan sangat menyakitkan. Tidak hanya sakit karena melihat orang lain sakit. Tapi juga sakit mana kala seseorang diperlakukan tidak sesuai dengan apa yang telah diusahakan, sebagai makhluk yang sama. Ini bukanlah pikiran sosialis, yang diasosiasikan berhaluan kiri, akan tetapi ini adalah barisan kata yang ingin kujadikan sebagai pedang untuk memotong batang-batang ketidak-adilan, orang-orang yang berkuasa dan mereka bertindak tidak adil.
Kemudian, diam kita terhadap banyaknya ketidak-adilan-tidak usah saya paparkan satu per satunya-merupakan bentuk masif seseorang, yang mungkin mewakilkan sebagian masyarakat, yang dapat berakibat makin hilangnya kata “ketidakadilan” karena dianggap semuanya sudah berjalan secara adil. Sehingga akan mengakar dan bahkan bisa jadi pohon itu sendiri yang kemudian akan melakukan regenerasi dengan bentuk dan model yang lebih kuat.
Jika kita menunggu waktu, lantas sampai kapan? Apakah dengan sabar atau pasrah? Atau menunggu datangnya pembela keadilan yang keluar dari layar-layar kaca dengan seragam lucu dan senjata yang bisa di ubah-ubah secara otomatis, hingga bisa merubah saluran layar kaca tersebut hingga pembela keadilan itu tidak ada?
Aku tidak mengulas tentang ketidak-adilan itu seperti apa ataupun memberi wacana tentang keadilan. Aku sendiri tidak tahu makna dan hakikat “adil”, apalagi setelah mendapat tambahan kata “tidak”, serta imbuhan ke-an yang berarti adalah proses. Jadi banyak hal yang berkaitan dengannya, mungkin juga ada kaitannya dengan masa kecilku saat masih sekolah dengan uang saku lima ribu rupiah.
Kamis, 15 Juli 2010
Tak Kenal
Tak ada judul yang sesuai untuk drama hidupku ini, atau mungkin aku tak mampu merangkai kata penuh imajinasi untuk memusatkan perhatian pada kehidupan yang aku jalani.
Tak ada awalan yang bagus untuk menggoreskan tinta pada lembaran kertas permainan sandiwara yang berjalan bersama nafas dari rongga dada ini, atau mungkin aku tak mampu mengungkapkan perasaan sesuai dengan perasaan orang lain.
tak ada istilah yang bisa kuingat untuk melengkapi barisan kata-kata gersang dari tubuhku, atau aku memang tak tahu bagaimana istilah tersebut dapat sampai pada ingatanku kemudian kutuangkan dalam secangkir pengalaman.
Tak ada inspirasi yang terlintas untuk menggagas ide dalam pikiran yang sejak dulu kurawat, atau mungkin aku tak punya pikiran dan tak punya kepekaan perasaan untuk dapat menggelontarkan sejumput pencerahan dalam diri.
Tak ada waktu yang tepat untuk mengukir perjalanan jari-jari ini pada tombol-tombol komputer yang menggugah keinginanku, atau mungkin aku tak mampu mengolah bahan yang tersimpan menjadi makanan untuk jiwa ini.
Tak ada pandangan yang menarik dalam tiap langkah anganku, atau aku memang tak tahu bagaimana mengerti tentang sebuah arti kenyamanan dan keindahan yang memenuhi alam semesta bersama kehangatan senyumnya.
Tak ada rayuan yang menggoda tubuh ini untuk tetap semangat meretas belantara asing jiwaku, atau mungkin aku tak tahu bagaimana ejawantah dari rayuan yang tiap waktu aku dapati di antara semak-semak kering yang kujadikan api unggun. Tak ada tindakan baik untuk beberapa waktu yang cukup menguras keringat, atau mungkin aku tak tahu arti kebaikan yang bisa kutemui di sepanjang jalan dan bahkan di antara kejahatan yang sangat akrab denganku.
Tak ada kesempatan yang berguna pada pengalamanku, atau mungkin aku tak tahu bagaimana cara memperoleh pengalaman yang banyak orang menantikan manfaatnya untuk kebaikan antar sesama.
Tak ada cinta yang suci untuk proses pendewasaan diri, atau mungkin aku tak mengenal apa makna cinta yang banyak orang mengagungkannya dengan pengorbannan yang dianggap sesuai dengan hakikat cinta.
Tak lukisan yang indah untuk paparan perasaan ini, atau mungkin aku tak bisa merasakan bagaimana orang-orang dapat memperoleh kebahagiaan dan kesedihan untuk mewarnai hidup yang berliku.
Tak ada sentuhan yang lembut untuk urat-urat ini, atau mungkin aku tak pernah belajar tetang fungsi indera yang oleh sebagian orang dijadikan penilaian tentang jati diri untuk memuaskan ego manusiawinya.
Tak ada yang tepat untuk semuanya, atau mungkin hamburan kata-kata ini tak mengenalku.
Tak ada awalan yang bagus untuk menggoreskan tinta pada lembaran kertas permainan sandiwara yang berjalan bersama nafas dari rongga dada ini, atau mungkin aku tak mampu mengungkapkan perasaan sesuai dengan perasaan orang lain.
tak ada istilah yang bisa kuingat untuk melengkapi barisan kata-kata gersang dari tubuhku, atau aku memang tak tahu bagaimana istilah tersebut dapat sampai pada ingatanku kemudian kutuangkan dalam secangkir pengalaman.
Tak ada inspirasi yang terlintas untuk menggagas ide dalam pikiran yang sejak dulu kurawat, atau mungkin aku tak punya pikiran dan tak punya kepekaan perasaan untuk dapat menggelontarkan sejumput pencerahan dalam diri.
Tak ada waktu yang tepat untuk mengukir perjalanan jari-jari ini pada tombol-tombol komputer yang menggugah keinginanku, atau mungkin aku tak mampu mengolah bahan yang tersimpan menjadi makanan untuk jiwa ini.
Tak ada pandangan yang menarik dalam tiap langkah anganku, atau aku memang tak tahu bagaimana mengerti tentang sebuah arti kenyamanan dan keindahan yang memenuhi alam semesta bersama kehangatan senyumnya.
Tak ada rayuan yang menggoda tubuh ini untuk tetap semangat meretas belantara asing jiwaku, atau mungkin aku tak tahu bagaimana ejawantah dari rayuan yang tiap waktu aku dapati di antara semak-semak kering yang kujadikan api unggun. Tak ada tindakan baik untuk beberapa waktu yang cukup menguras keringat, atau mungkin aku tak tahu arti kebaikan yang bisa kutemui di sepanjang jalan dan bahkan di antara kejahatan yang sangat akrab denganku.
Tak ada kesempatan yang berguna pada pengalamanku, atau mungkin aku tak tahu bagaimana cara memperoleh pengalaman yang banyak orang menantikan manfaatnya untuk kebaikan antar sesama.
Tak ada cinta yang suci untuk proses pendewasaan diri, atau mungkin aku tak mengenal apa makna cinta yang banyak orang mengagungkannya dengan pengorbannan yang dianggap sesuai dengan hakikat cinta.
Tak lukisan yang indah untuk paparan perasaan ini, atau mungkin aku tak bisa merasakan bagaimana orang-orang dapat memperoleh kebahagiaan dan kesedihan untuk mewarnai hidup yang berliku.
Tak ada sentuhan yang lembut untuk urat-urat ini, atau mungkin aku tak pernah belajar tetang fungsi indera yang oleh sebagian orang dijadikan penilaian tentang jati diri untuk memuaskan ego manusiawinya.
Tak ada yang tepat untuk semuanya, atau mungkin hamburan kata-kata ini tak mengenalku.
Cinta dan Persahabatan
Cinta dan persahabatan adalah dua saudara dari tempat yang berbeda. Cinta merupakan anugerah tuhan yang istimewa, karena cinta tidak dapat didefinisikan maknanya, bukan berarti tak bermakna, akan tetapi keterbatasanku untuk memaknainya.
Aku menganggap cinta adalah seorang anak perasaan yang berguru pada hati kemudian melanjutkan pengembaraan menuju belantara yang penuh dengan nafsu. Jadi bagaimana pun kuatnya perasaan itu, tak mampu menguasai cinta, yang ada hanya harapan dan angan-angan. Dan selanjutnya akan menghasilkan masalah berupa kandasnya harapan dan pupusnya angan-angan, karena perasaan tak tahu nasib dan siapa itu cinta, dilepas begitu saja. Akibatnya cinta akan menjadi biang emosi atau berujung dengan kekecewaan.
Kemudian hati sebagai pemandu dan pembimbing akan dapat mengetahui potensi atau kemampuan dari cinta, sehingga cinta akan mengikuti arahan atau petunjuk hati yang berlandaskan kebenaran. Tak ada suatu kegagalan dari hati untuk menyampaikan pelajaran kepada cinta akan kebenaran-kebenaran, kecuali jika cinta memilih jalan hidupnya sendiri, jalan yang tak mengikuti aturan gurunya. Dan cinta akan mengamalkan ilmu yang diterimanya.
Setelah sampai di belantara nafsu, kemandirian cinta akan diuji, apakah dia dengan pelajaran yang diperolehnya akan tetap berpegang teguh, atau nafsu akan menjadi pengalaman yang dapat menghasilkan pelajaran. Akan tetapi nafsu bukanlah ujung pengembaraan dari cinta, karena cinta adalah makhluk bebas yang tak berakhir, dan bukan pula cinta itu abadi, karena ada waktu saat cinta mengalami kelelahan pengembaraan.
Sedangkan persahabatan adalah perjalanan pulang cinta kembali pada orang tuanya. Sehingga tak ada persahabatan yang tanpa cinta, cinta yang telah berguru kepada hati. Dan pada saatnya persahabatan akan memahami jejak-jejak cinta, karena cinta merupakan bagian persahabatan.
Mungkin ada yang berspekulasi kalau cinta itu sudah pasti persahabatan, akan tetapi persahabatan belum tentu cinta. Berarti pandangan itu masih menganggap kalau persahabatan sama dengan pertemanan.
Selanjutnya ………..
Dan orang-orang bijak akan tepat menempatkan sesuatu.
Aku menganggap cinta adalah seorang anak perasaan yang berguru pada hati kemudian melanjutkan pengembaraan menuju belantara yang penuh dengan nafsu. Jadi bagaimana pun kuatnya perasaan itu, tak mampu menguasai cinta, yang ada hanya harapan dan angan-angan. Dan selanjutnya akan menghasilkan masalah berupa kandasnya harapan dan pupusnya angan-angan, karena perasaan tak tahu nasib dan siapa itu cinta, dilepas begitu saja. Akibatnya cinta akan menjadi biang emosi atau berujung dengan kekecewaan.
Kemudian hati sebagai pemandu dan pembimbing akan dapat mengetahui potensi atau kemampuan dari cinta, sehingga cinta akan mengikuti arahan atau petunjuk hati yang berlandaskan kebenaran. Tak ada suatu kegagalan dari hati untuk menyampaikan pelajaran kepada cinta akan kebenaran-kebenaran, kecuali jika cinta memilih jalan hidupnya sendiri, jalan yang tak mengikuti aturan gurunya. Dan cinta akan mengamalkan ilmu yang diterimanya.
Setelah sampai di belantara nafsu, kemandirian cinta akan diuji, apakah dia dengan pelajaran yang diperolehnya akan tetap berpegang teguh, atau nafsu akan menjadi pengalaman yang dapat menghasilkan pelajaran. Akan tetapi nafsu bukanlah ujung pengembaraan dari cinta, karena cinta adalah makhluk bebas yang tak berakhir, dan bukan pula cinta itu abadi, karena ada waktu saat cinta mengalami kelelahan pengembaraan.
Sedangkan persahabatan adalah perjalanan pulang cinta kembali pada orang tuanya. Sehingga tak ada persahabatan yang tanpa cinta, cinta yang telah berguru kepada hati. Dan pada saatnya persahabatan akan memahami jejak-jejak cinta, karena cinta merupakan bagian persahabatan.
Mungkin ada yang berspekulasi kalau cinta itu sudah pasti persahabatan, akan tetapi persahabatan belum tentu cinta. Berarti pandangan itu masih menganggap kalau persahabatan sama dengan pertemanan.
Selanjutnya ………..
Dan orang-orang bijak akan tepat menempatkan sesuatu.
Laut Kecil Sebelum Mandi
Seperti hari-hari sebelumnya, aku terdiam di hadapan lautan kecil menunggu saatnya mengencangkan ikat pinggang dan menghitung kancing baju. Aku tampak seperti manusia tolol (kalau tidak lebih buruk dari kerbau), hanya memandangi lautan yang berbagi air dengan perutku. Aku tidak ingin tenggelam, aku hanya menenggelamkan waktu yang selalu saja berkejaran dengan keringat di kulitku, gumamku suatu hari setelah jalan-jalan di perkampungan kumuh. Aku tidak mungkin melihat bayangan anak-anak kelaparan, lansia menunggu ajal dengan sia-sia, para pemuda hanya bolak-balik di depan halaman tetangga. Laut kecilku mengantarkan hidangan remang ditepi-tepi bibirku (aku tak tahu siapa yang menyuruhnya).
Laut kecil itu kali ini agak enggan bersamaku: menemaniku sebelum kerja, sekolah, ibadah, juga tanpa arah. Ia mulai berpihak pada pengalamanku saat di perkampungan kumuh itu. Tapi ia kadang mengeluh dan mengadu kepadaku tentang kesempitan hidup yang dialami teman barunya. Nanti laut juga akan mengeluhkan bagaimana penderitaan rakyat kecil di bawah telapak “keindahan”, keindahan yang dijanjikan kota-kota dengan menggusur para pedagang kecil, karena ia tak bisa membawa aspirasi mereka ke wakil rakyat yang masih mengenggap dirinya sebagai penguasa rakyat. Apalagi sekarang laut kecilku sudah punya banyak teman (walaupun masih sebatas bias-bias politik yang tak pernah dipelajarinya dari jurursan ilmu politik atau ilmu hokum, tapi dari kesetiaannya menemaniku duduk sambil merokok).
Aku ingin ia kembali ke menjadi laut kecilku yang tak tahu apa-apa agar tak kecewa dengan pengetahuaanya (ia tak berkuasa untuk mengajarkan pengetahuannya). Aku ingin kau kembali membawa kesegaran yang kutitipkan pada malam, saat anak-anak jalanan meringkuk di kolong jembatan dan trotoar-trotoar. Tapi kubiarkan keinginanku hilang saat kau bersama mereka tidak dalam mimpi.
Laut kecil itu kali ini agak enggan bersamaku: menemaniku sebelum kerja, sekolah, ibadah, juga tanpa arah. Ia mulai berpihak pada pengalamanku saat di perkampungan kumuh itu. Tapi ia kadang mengeluh dan mengadu kepadaku tentang kesempitan hidup yang dialami teman barunya. Nanti laut juga akan mengeluhkan bagaimana penderitaan rakyat kecil di bawah telapak “keindahan”, keindahan yang dijanjikan kota-kota dengan menggusur para pedagang kecil, karena ia tak bisa membawa aspirasi mereka ke wakil rakyat yang masih mengenggap dirinya sebagai penguasa rakyat. Apalagi sekarang laut kecilku sudah punya banyak teman (walaupun masih sebatas bias-bias politik yang tak pernah dipelajarinya dari jurursan ilmu politik atau ilmu hokum, tapi dari kesetiaannya menemaniku duduk sambil merokok).
Aku ingin ia kembali ke menjadi laut kecilku yang tak tahu apa-apa agar tak kecewa dengan pengetahuaanya (ia tak berkuasa untuk mengajarkan pengetahuannya). Aku ingin kau kembali membawa kesegaran yang kutitipkan pada malam, saat anak-anak jalanan meringkuk di kolong jembatan dan trotoar-trotoar. Tapi kubiarkan keinginanku hilang saat kau bersama mereka tidak dalam mimpi.
Minggu, 11 Juli 2010
Karya Sastra, UFO yang Bingung Mendarat
Saat UFO mendarat di bumi Indonesia, maka akan timbul kebingungan dalam dirinya, di Indonesia bagian manakah UFO itu akan menjejakkan kakinya. Begitu juga dengan karya sastra di Indonesia, khususnya genre prosa. UFO tersebut ingin menguasai Indonesia, tapi terlebih dahulu harus menguasai keberagaman dan variasi kebudayaan yang ada. Saat kebudayaan urban mendominasi ranah karya sastra, dianggap kebudayaan yang universal, posisi warna lokal atau local coleur seperti sebuah bayang-bayang, sesuatu yang tampak setelah adanya benda dan perantara. Kebersatuan atau kebhineka-tunggal-ikaan menjadi pelindung bagi kebudayaan urban agar kukuh kedudukannya, bukan dalam pengertian kebudayaan urban adalah penjajah, akan tetapi sebuah dinamika dalam karya sastra.
Kebudayaan urban yang dibawa oleh Post-Modernisme membawa implikasi pada bergesernya nilai tradisional yang bertempat di tiap daerah. Kebudayaan nasional, dalam artian kebudayaan yang berpedoman pada Bhineka Tunggal Ika, kemudian menjadi garda depan, yang ditandai oleh kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan, menyangkut cara pandang dan pola pikir. Sehingga apa-apa yang menjadi dasar pemikiran mayoritas berhaluan ke Barat, sebagai pusat atau kiblat kemajuan. Apalagi karya sastra, di satu sisi hakikatnya adalah bahasa dan di sisi lain adalah media sebagai pengantar kebudayaan. Melihat fenomena tersebut, Ajip Rosidi menghimbau untuk banyak membaca karya sastra pengarang pribumi, tentu saja dia sendiri berusaha, agar masyarakat sastra agar berpijak pada bumi sendiri dengan mengapungkan kultur lokal ke permukaan.
Tidak dapat dipungkiri jika dalam karya sastra modern yang mengangkat budaya urban, tidak menampilkan kultur lokal. Setiap pengarang atau sastrawan adalah manusia yang menjadi makhluk universal secara ideologi, tetapi dia juga bukan makhluk yang lahir dari kekosongan, artinya dari keadaan masyarakat dan berbagai pandangannya, sehingga pengaruh lingkungan, lingkungan tempatnya diberikan pembelajaran hidup pertama kali, akan membuatnya menguak memori lama dalam rangka bernostalgia. Untuk sesaat, karya sastra yang berpandangan universal bersama kompleksitas permasalahannya akan kabur, berganti dengan wilayah yang lebih sempit, terlepas dari adanya kemungkinan permasalahan yang sama.
Warna lokal tidak hanya berkaitan struktur sintaksis atau unsur intrinsik saja, seperti setting, nama daerah, bahasa, tetapi juga berkaitan dengan pandangan dan kejala social yang menjadi budaya dalam masyarakat tertentu. Sebgai contoh cerpen-cerpen Danarto yang terasa warna lokalnya tidak hanya pada penggunaan bahasa Jawa, tetapi juga pandangan orang Jawa yang akrab dengan mistis. Kemudian cerita Si Dul anak Sekolahan (Aman Datuk Majoindo), yang mengetengahkan kebudayaan Betawi. Upacara (Korrie Layun Rampan), Kemarau (A.A Navis) dan yang lainnya. Kemdian yang tampak baru yaitu dengan menampilkan kultur lokal dengan latar belakang kehidupan pesantren adalah K.H A Mutofa Bisri (Gus Mus) dalam kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi.
Pada zaman angkatan 45, mulai tampak ada perubahan pandangan dalam karya-karya sastra, dipengaruhi oleh semangat kemerdekaan. Sehingga warna lokal pada saat itu merupakan bagian yang terasingkan, bagian yang independent dan dianggap tidak menyentuh aspek social dalam hubungannya dengan nasionalisme. Kemudian makin diperkuat dengan pengaruh Komunis yang berkembang pada angkatan 50 an. Makin usia karya sastra bertambah, dengan jumlah pengarang yang makin meningkat pula, warna lokal atau kultur lokal dianggap seakan parasit dari multikultural dan heterogenitas yang membutuhkan penyatuan.
Hakikat multikultural dalam dinamika karya sastra adalah karya-karya yang bermanfaat bagi semua golongan, tanpa membedakan regionalitas atau lokalitas tertentu. Sehingga keberadaan cerpen-cerpen atau karya sastra lain yang tebar pesona dengan permasalahan atau bahasa yang tidak diketahui maknanya secara harfiah, karena perbedaan bahasa atau tradisi, kurang bermanfaat bagi masyarakat berskala nasional. A. S Laksana dan Agus Noor tidak ingin dicap sebagai orang yang berkontemplasi hanya di kandangnya sendiri dengan cerpen-cerpen urban, misalnya. Pun Wa Ode Wulan Ratna, dia juga termasuk kaum urban yang mengikuti dinamisasi dalam sastra, walaupun cerpennya mengevokasi bahasa arkais.
Akan tetapi para sastrawan bukanlah kemajuan itu sendiri, yang selalu menghadap ke depan tanpa menoleh atau berbalik ke belakang. Ada kalanya kultur lokal tampil dengan alasan dan tujuan yang bukan merupakan garda depan, tetapi sebatas pemaparan. Dalam hal ini sastrawan bertindak sebagai wisatawan, yang memaparkan keadaan social tertentu dalam suatu daerah, tanpa harus bertanggung jawab atas keadaan tersebut. Misalnya menceritakan kehidupan agraris untuk memprotes industrialisme. Atau seperti yang telah disebutkan di atas, dalam rangka nostalgia.
Dalam perkembangan karya sastra sekarang ini, keberagaman yang menyangkut perbedaan, menjadi tampak indah dalam konstelsi kesusastraan Indonesia, bukan persamaannya itu sendiri. Akan tetapi persamaan juga bukan hal yang membosankan. Jika kita melihat ke depan maka dinamisasi sastra akan tetap terjaga, sebagai bagian kebudayaan bangsa, bukan daerah. Jika melihat ke belakang, kekhawatiran akan adanya stagnasi dalam sastra terjadi. Mungkin begitulah UFO bekerja, ada kalanya ingin cepat tinggal di Indonesia, tapi juga bingung harus menginjak tanah yang mana dulu.
***
Kebudayaan urban yang dibawa oleh Post-Modernisme membawa implikasi pada bergesernya nilai tradisional yang bertempat di tiap daerah. Kebudayaan nasional, dalam artian kebudayaan yang berpedoman pada Bhineka Tunggal Ika, kemudian menjadi garda depan, yang ditandai oleh kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan, menyangkut cara pandang dan pola pikir. Sehingga apa-apa yang menjadi dasar pemikiran mayoritas berhaluan ke Barat, sebagai pusat atau kiblat kemajuan. Apalagi karya sastra, di satu sisi hakikatnya adalah bahasa dan di sisi lain adalah media sebagai pengantar kebudayaan. Melihat fenomena tersebut, Ajip Rosidi menghimbau untuk banyak membaca karya sastra pengarang pribumi, tentu saja dia sendiri berusaha, agar masyarakat sastra agar berpijak pada bumi sendiri dengan mengapungkan kultur lokal ke permukaan.
Tidak dapat dipungkiri jika dalam karya sastra modern yang mengangkat budaya urban, tidak menampilkan kultur lokal. Setiap pengarang atau sastrawan adalah manusia yang menjadi makhluk universal secara ideologi, tetapi dia juga bukan makhluk yang lahir dari kekosongan, artinya dari keadaan masyarakat dan berbagai pandangannya, sehingga pengaruh lingkungan, lingkungan tempatnya diberikan pembelajaran hidup pertama kali, akan membuatnya menguak memori lama dalam rangka bernostalgia. Untuk sesaat, karya sastra yang berpandangan universal bersama kompleksitas permasalahannya akan kabur, berganti dengan wilayah yang lebih sempit, terlepas dari adanya kemungkinan permasalahan yang sama.
Warna lokal tidak hanya berkaitan struktur sintaksis atau unsur intrinsik saja, seperti setting, nama daerah, bahasa, tetapi juga berkaitan dengan pandangan dan kejala social yang menjadi budaya dalam masyarakat tertentu. Sebgai contoh cerpen-cerpen Danarto yang terasa warna lokalnya tidak hanya pada penggunaan bahasa Jawa, tetapi juga pandangan orang Jawa yang akrab dengan mistis. Kemudian cerita Si Dul anak Sekolahan (Aman Datuk Majoindo), yang mengetengahkan kebudayaan Betawi. Upacara (Korrie Layun Rampan), Kemarau (A.A Navis) dan yang lainnya. Kemdian yang tampak baru yaitu dengan menampilkan kultur lokal dengan latar belakang kehidupan pesantren adalah K.H A Mutofa Bisri (Gus Mus) dalam kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi.
Pada zaman angkatan 45, mulai tampak ada perubahan pandangan dalam karya-karya sastra, dipengaruhi oleh semangat kemerdekaan. Sehingga warna lokal pada saat itu merupakan bagian yang terasingkan, bagian yang independent dan dianggap tidak menyentuh aspek social dalam hubungannya dengan nasionalisme. Kemudian makin diperkuat dengan pengaruh Komunis yang berkembang pada angkatan 50 an. Makin usia karya sastra bertambah, dengan jumlah pengarang yang makin meningkat pula, warna lokal atau kultur lokal dianggap seakan parasit dari multikultural dan heterogenitas yang membutuhkan penyatuan.
Hakikat multikultural dalam dinamika karya sastra adalah karya-karya yang bermanfaat bagi semua golongan, tanpa membedakan regionalitas atau lokalitas tertentu. Sehingga keberadaan cerpen-cerpen atau karya sastra lain yang tebar pesona dengan permasalahan atau bahasa yang tidak diketahui maknanya secara harfiah, karena perbedaan bahasa atau tradisi, kurang bermanfaat bagi masyarakat berskala nasional. A. S Laksana dan Agus Noor tidak ingin dicap sebagai orang yang berkontemplasi hanya di kandangnya sendiri dengan cerpen-cerpen urban, misalnya. Pun Wa Ode Wulan Ratna, dia juga termasuk kaum urban yang mengikuti dinamisasi dalam sastra, walaupun cerpennya mengevokasi bahasa arkais.
Akan tetapi para sastrawan bukanlah kemajuan itu sendiri, yang selalu menghadap ke depan tanpa menoleh atau berbalik ke belakang. Ada kalanya kultur lokal tampil dengan alasan dan tujuan yang bukan merupakan garda depan, tetapi sebatas pemaparan. Dalam hal ini sastrawan bertindak sebagai wisatawan, yang memaparkan keadaan social tertentu dalam suatu daerah, tanpa harus bertanggung jawab atas keadaan tersebut. Misalnya menceritakan kehidupan agraris untuk memprotes industrialisme. Atau seperti yang telah disebutkan di atas, dalam rangka nostalgia.
Dalam perkembangan karya sastra sekarang ini, keberagaman yang menyangkut perbedaan, menjadi tampak indah dalam konstelsi kesusastraan Indonesia, bukan persamaannya itu sendiri. Akan tetapi persamaan juga bukan hal yang membosankan. Jika kita melihat ke depan maka dinamisasi sastra akan tetap terjaga, sebagai bagian kebudayaan bangsa, bukan daerah. Jika melihat ke belakang, kekhawatiran akan adanya stagnasi dalam sastra terjadi. Mungkin begitulah UFO bekerja, ada kalanya ingin cepat tinggal di Indonesia, tapi juga bingung harus menginjak tanah yang mana dulu.
***
Langganan:
Postingan (Atom)