Laman

Mencari Jati Diri

Mencari Jati Diri
Hidup seperti labirin yang menagakar untuk sampai menuju puncak sebagai titik kekuasan Tuhan.

Kamis, 15 Juli 2010

Orang Berseragam Lucu

Pada hari awal masuk sekolah, awal tahun pelajaran baru, aku di beri uang saku lima ribu rupiah. Untuk ongkos kendaraan pergi-pulang dari rumah ke sekolah tiga ribu rupiah dan sisanya untuk jajan. Adik saya pun di beri uang saku sama besarnya, lima ribu rupiah. Akan tetepi keseluruhannya untuk jajan, karena adik saya masih SMP, berangkat pakai sepeda. Dan sering juga dia mengeluh dengan rengekan yang menggelikan, “Bu, kok saya diberi ongkos cuma lima ribu. Teman-teman yang lain lebih dari lima ribu”. Jika ada uang dia langsung memberinya tanpa harus tahu untuk apa saja iang tersebut.
Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal dari sikap ibu saya tersebut. Aku merasa sikap ibu tidak adil. Untuk pembagian nominalnya sama, lima ribu rupiah, akan tetapi yang bisa aku manfaatkan untuk diri sendiri hanya dua ribu rupiah. Dengan alasan mengerti kondisi keluarga dan tampak penurut serta agar terlihat sebagai anak yang baik, aku menjadi tidak mempersoalkan hal itu. Aku mengikuti saja aturan main yang berlaku bagi ibuku, karena ayahku bertugas mencari kerja, tanpa ikut campur dalam masalah keuangan keluarga.
Keadilan merupakan bagian yang tak terelakkan dari kehidupan, dari lingkup terkecil hingga cakupan yang terbesar, dunia. Keadilan merupakan momok menyeramkan yang bersembunyi di balik baju kita sendiri, dan kita meraakan sendiri. Mungkin karena sangat akrab dan sangat familiar, hal itu seperti tak ada, hilang bersama kebiasaan dan kewajaran. Jika aku lanjutkan narasi di atas, tentu banyak ketidakadilan yang berkelindan di dalamnya, seiring bertambahnya usiaku sekarang. Karena bukan hanya urusan sekolah saja yang berhubungan dengan keuangan di dalamnya.
Begitu pula dengan kondisi negara tempat kita menghafal lagu kebangsaan dan menghafal isi sumpah pemuda, pada waktu sekolah, yaitu Indonesia. Banyak terjadi ketidak-adilan yang berkerumun layaknya orang-orang yang sedang menyaksikan pertandingan sepak bola, walaupun tim ssepak bola Indonesia tidak sehebat tim sepak bola negara-negara Eropa. Ketidak-adilan tersebut melewati tiap sudut ruangan, tiap aspek kehidupan. Dan hampir dalam setiap hal ada ketidak-adilan dengan cara yang berbeda tentunya. Tidak hanya berkaitan dengan aspek materi tetapi aspek-aspek lain juga.
Keadaan demikian bukanlah hal yang baru dikenal dan tentu disadari, jika perenungan dan pemikiran mendalam ikut serta. Ketidak-adilan seperti mengikuti tiap langkah manusia, (walaupun hanya manusia saja yang tahu akan keadilan dan ketidak-adilan),kapan pun dan di mana pun. Hal itu tentu bukanlah hukum alam atau hukum kausalitas yang tidak dapat dirubah. Hal itu merupakan gejala sosial yang menyangkut pelbagai kegiatan sosial, yang tercipta karena adanya ketidak-sesuaian pandangan atau mungkin pandangan yang sengaja disimpangkan.
Bagi seseorang yang peduli dengan keberadaan manusia yang lain, humanisme yang masih terjaga, hal tersebut akan sangat menyakitkan. Tidak hanya sakit karena melihat orang lain sakit. Tapi juga sakit mana kala seseorang diperlakukan tidak sesuai dengan apa yang telah diusahakan, sebagai makhluk yang sama. Ini bukanlah pikiran sosialis, yang diasosiasikan berhaluan kiri, akan tetapi ini adalah barisan kata yang ingin kujadikan sebagai pedang untuk memotong batang-batang ketidak-adilan, orang-orang yang berkuasa dan mereka bertindak tidak adil.
Kemudian, diam kita terhadap banyaknya ketidak-adilan-tidak usah saya paparkan satu per satunya-merupakan bentuk masif seseorang, yang mungkin mewakilkan sebagian masyarakat, yang dapat berakibat makin hilangnya kata “ketidakadilan” karena dianggap semuanya sudah berjalan secara adil. Sehingga akan mengakar dan bahkan bisa jadi pohon itu sendiri yang kemudian akan melakukan regenerasi dengan bentuk dan model yang lebih kuat.
Jika kita menunggu waktu, lantas sampai kapan? Apakah dengan sabar atau pasrah? Atau menunggu datangnya pembela keadilan yang keluar dari layar-layar kaca dengan seragam lucu dan senjata yang bisa di ubah-ubah secara otomatis, hingga bisa merubah saluran layar kaca tersebut hingga pembela keadilan itu tidak ada?
Aku tidak mengulas tentang ketidak-adilan itu seperti apa ataupun memberi wacana tentang keadilan. Aku sendiri tidak tahu makna dan hakikat “adil”, apalagi setelah mendapat tambahan kata “tidak”, serta imbuhan ke-an yang berarti adalah proses. Jadi banyak hal yang berkaitan dengannya, mungkin juga ada kaitannya dengan masa kecilku saat masih sekolah dengan uang saku lima ribu rupiah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar