Seperti hari-hari sebelumnya, aku terdiam di hadapan lautan kecil menunggu saatnya mengencangkan ikat pinggang dan menghitung kancing baju. Aku tampak seperti manusia tolol (kalau tidak lebih buruk dari kerbau), hanya memandangi lautan yang berbagi air dengan perutku. Aku tidak ingin tenggelam, aku hanya menenggelamkan waktu yang selalu saja berkejaran dengan keringat di kulitku, gumamku suatu hari setelah jalan-jalan di perkampungan kumuh. Aku tidak mungkin melihat bayangan anak-anak kelaparan, lansia menunggu ajal dengan sia-sia, para pemuda hanya bolak-balik di depan halaman tetangga. Laut kecilku mengantarkan hidangan remang ditepi-tepi bibirku (aku tak tahu siapa yang menyuruhnya).
Laut kecil itu kali ini agak enggan bersamaku: menemaniku sebelum kerja, sekolah, ibadah, juga tanpa arah. Ia mulai berpihak pada pengalamanku saat di perkampungan kumuh itu. Tapi ia kadang mengeluh dan mengadu kepadaku tentang kesempitan hidup yang dialami teman barunya. Nanti laut juga akan mengeluhkan bagaimana penderitaan rakyat kecil di bawah telapak “keindahan”, keindahan yang dijanjikan kota-kota dengan menggusur para pedagang kecil, karena ia tak bisa membawa aspirasi mereka ke wakil rakyat yang masih mengenggap dirinya sebagai penguasa rakyat. Apalagi sekarang laut kecilku sudah punya banyak teman (walaupun masih sebatas bias-bias politik yang tak pernah dipelajarinya dari jurursan ilmu politik atau ilmu hokum, tapi dari kesetiaannya menemaniku duduk sambil merokok).
Aku ingin ia kembali ke menjadi laut kecilku yang tak tahu apa-apa agar tak kecewa dengan pengetahuaanya (ia tak berkuasa untuk mengajarkan pengetahuannya). Aku ingin kau kembali membawa kesegaran yang kutitipkan pada malam, saat anak-anak jalanan meringkuk di kolong jembatan dan trotoar-trotoar. Tapi kubiarkan keinginanku hilang saat kau bersama mereka tidak dalam mimpi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar