Saat UFO mendarat di bumi Indonesia, maka akan timbul kebingungan dalam dirinya, di Indonesia bagian manakah UFO itu akan menjejakkan kakinya. Begitu juga dengan karya sastra di Indonesia, khususnya genre prosa. UFO tersebut ingin menguasai Indonesia, tapi terlebih dahulu harus menguasai keberagaman dan variasi kebudayaan yang ada. Saat kebudayaan urban mendominasi ranah karya sastra, dianggap kebudayaan yang universal, posisi warna lokal atau local coleur seperti sebuah bayang-bayang, sesuatu yang tampak setelah adanya benda dan perantara. Kebersatuan atau kebhineka-tunggal-ikaan menjadi pelindung bagi kebudayaan urban agar kukuh kedudukannya, bukan dalam pengertian kebudayaan urban adalah penjajah, akan tetapi sebuah dinamika dalam karya sastra.
Kebudayaan urban yang dibawa oleh Post-Modernisme membawa implikasi pada bergesernya nilai tradisional yang bertempat di tiap daerah. Kebudayaan nasional, dalam artian kebudayaan yang berpedoman pada Bhineka Tunggal Ika, kemudian menjadi garda depan, yang ditandai oleh kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan, menyangkut cara pandang dan pola pikir. Sehingga apa-apa yang menjadi dasar pemikiran mayoritas berhaluan ke Barat, sebagai pusat atau kiblat kemajuan. Apalagi karya sastra, di satu sisi hakikatnya adalah bahasa dan di sisi lain adalah media sebagai pengantar kebudayaan. Melihat fenomena tersebut, Ajip Rosidi menghimbau untuk banyak membaca karya sastra pengarang pribumi, tentu saja dia sendiri berusaha, agar masyarakat sastra agar berpijak pada bumi sendiri dengan mengapungkan kultur lokal ke permukaan.
Tidak dapat dipungkiri jika dalam karya sastra modern yang mengangkat budaya urban, tidak menampilkan kultur lokal. Setiap pengarang atau sastrawan adalah manusia yang menjadi makhluk universal secara ideologi, tetapi dia juga bukan makhluk yang lahir dari kekosongan, artinya dari keadaan masyarakat dan berbagai pandangannya, sehingga pengaruh lingkungan, lingkungan tempatnya diberikan pembelajaran hidup pertama kali, akan membuatnya menguak memori lama dalam rangka bernostalgia. Untuk sesaat, karya sastra yang berpandangan universal bersama kompleksitas permasalahannya akan kabur, berganti dengan wilayah yang lebih sempit, terlepas dari adanya kemungkinan permasalahan yang sama.
Warna lokal tidak hanya berkaitan struktur sintaksis atau unsur intrinsik saja, seperti setting, nama daerah, bahasa, tetapi juga berkaitan dengan pandangan dan kejala social yang menjadi budaya dalam masyarakat tertentu. Sebgai contoh cerpen-cerpen Danarto yang terasa warna lokalnya tidak hanya pada penggunaan bahasa Jawa, tetapi juga pandangan orang Jawa yang akrab dengan mistis. Kemudian cerita Si Dul anak Sekolahan (Aman Datuk Majoindo), yang mengetengahkan kebudayaan Betawi. Upacara (Korrie Layun Rampan), Kemarau (A.A Navis) dan yang lainnya. Kemdian yang tampak baru yaitu dengan menampilkan kultur lokal dengan latar belakang kehidupan pesantren adalah K.H A Mutofa Bisri (Gus Mus) dalam kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi.
Pada zaman angkatan 45, mulai tampak ada perubahan pandangan dalam karya-karya sastra, dipengaruhi oleh semangat kemerdekaan. Sehingga warna lokal pada saat itu merupakan bagian yang terasingkan, bagian yang independent dan dianggap tidak menyentuh aspek social dalam hubungannya dengan nasionalisme. Kemudian makin diperkuat dengan pengaruh Komunis yang berkembang pada angkatan 50 an. Makin usia karya sastra bertambah, dengan jumlah pengarang yang makin meningkat pula, warna lokal atau kultur lokal dianggap seakan parasit dari multikultural dan heterogenitas yang membutuhkan penyatuan.
Hakikat multikultural dalam dinamika karya sastra adalah karya-karya yang bermanfaat bagi semua golongan, tanpa membedakan regionalitas atau lokalitas tertentu. Sehingga keberadaan cerpen-cerpen atau karya sastra lain yang tebar pesona dengan permasalahan atau bahasa yang tidak diketahui maknanya secara harfiah, karena perbedaan bahasa atau tradisi, kurang bermanfaat bagi masyarakat berskala nasional. A. S Laksana dan Agus Noor tidak ingin dicap sebagai orang yang berkontemplasi hanya di kandangnya sendiri dengan cerpen-cerpen urban, misalnya. Pun Wa Ode Wulan Ratna, dia juga termasuk kaum urban yang mengikuti dinamisasi dalam sastra, walaupun cerpennya mengevokasi bahasa arkais.
Akan tetapi para sastrawan bukanlah kemajuan itu sendiri, yang selalu menghadap ke depan tanpa menoleh atau berbalik ke belakang. Ada kalanya kultur lokal tampil dengan alasan dan tujuan yang bukan merupakan garda depan, tetapi sebatas pemaparan. Dalam hal ini sastrawan bertindak sebagai wisatawan, yang memaparkan keadaan social tertentu dalam suatu daerah, tanpa harus bertanggung jawab atas keadaan tersebut. Misalnya menceritakan kehidupan agraris untuk memprotes industrialisme. Atau seperti yang telah disebutkan di atas, dalam rangka nostalgia.
Dalam perkembangan karya sastra sekarang ini, keberagaman yang menyangkut perbedaan, menjadi tampak indah dalam konstelsi kesusastraan Indonesia, bukan persamaannya itu sendiri. Akan tetapi persamaan juga bukan hal yang membosankan. Jika kita melihat ke depan maka dinamisasi sastra akan tetap terjaga, sebagai bagian kebudayaan bangsa, bukan daerah. Jika melihat ke belakang, kekhawatiran akan adanya stagnasi dalam sastra terjadi. Mungkin begitulah UFO bekerja, ada kalanya ingin cepat tinggal di Indonesia, tapi juga bingung harus menginjak tanah yang mana dulu.
***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar